Cara Mencari Produk Untuk Dijual di Toko Online

Sudah menjadi rahasia umum bahwa topik riset produk selalu menarik dibicarakan para pemilik toko online.

Kenapa? Karena toko online selalu membutuhkan barang untuk dijual agar jadi duit. Dikatakan riset produk, bukan artinya melakukan proses research secara akademik. Proses yang dilakukan lebih dekat kepada “mencari”. Karena memang pekerjaannya mencari produk untuk dijual. Jadi statusnya seperti pedagang.

Beda halnya dengan pebisnis. Kalau pebisnis, mengembangkan produk. Membangun produk sendiri. Beneran riset. Ada timnya. Ada proses akademiknya. Membangun bisnis. Tiga kuncinya bisnis: profitable, scalable, sustainable. Dimana hal tersebut tidak bisa ditempuh kalau produknya berganti-ganti jenisnya, niche-nya, atau malah tokonya.

Nah yang kali ini akan saya bahas adalah proses yang pertama, yaitu mencari produk. Untuk dijual di online shop.

Sebelum masuk kesana, saya ingin mengulas sebuah creativity tool yang saya dapatkan di sebuah buku berjudul mindtool. Tool ini bisa kita gunakan untuk proses mencari produk tersebut. Nama metodenya adalah SCAMPER. Metode ini adalah metode general yang bisa digunakan baik Anda ingin “sekedar” mencari produk, atau memang benar-benar ingin membangun sebuah produk.

1/ Mengenal Metode SCAMPER

SCAMPER

SCAMPER adalah sebuah metode yang dikembangkan oleh Bob Eberle dalam rangka merangsang otak kita untuk berfikir out of the box terhadap sesuatu yang sudah lazim. Pada gambar diatas Anda bisa mendapatkan apa kepanjangan dari SCAMPER.

  • Substitute; artinya ganti. Coba pikirkan, barang yang sekarang ada di market untuk sebuah masalah tertentu. Misalkan sandal. Bisa nggak sandal yang udah umum tersebut, kita ganti? Atau bahannya misalnya, kita ganti dengan bahan bambu misalnya. Nah, hal ini bisa sambil ditelusuri di toko online.
  • Combine. Kombinasi. Ada fungsi yang bisa dikombinasikan? Ada fitur yang bisa dikombinasikan? Mungkin 2 masalah, bisa dikombinasikan solusinya oleh hanya 1 alat.
  • Adapt. Adaptasi. Mungkin ada barang yang dulu bisa untuk manfaat A, sekarang harus diperbaiki karena manfaat A tersebut sudah jadi A+. Bayangkan iPhone. Dulu bentuknya besar dan berat, tapi kemudian diadaptasikan dengan kebutuhan masyarakat sekarang menjadi lebih tipis dengan screen yang lebar.
  • Modify. Modifikasi. Bisa dimodifikasi menjadi lebih besar, atau lebih kecil. Atau dibuat menjadi lebih tebal, lebih tipis, dsb. Tahu biasa, dimodifikasi menjadi tahu bulat. Bakso biasa, dimodifikasi jadi bakso kotak, bakso raksasa, bakso telor, dan sejenisnya.
  • Put to another use. Siapa tau barang yang sama, bisa dipakai untuk manfaat lain? Misal sisir manusia, eh ternyata bisa dipakai jadi sisir kucing.
  • Eliminate. Menghilangkan. Apple termasuk bisnis yang suka meng-eliminate. Tombol yang dulunya banyak, dihilangkan menjadi hanya 1 saja home button.
  • Rearrange. Menyusun ulang. Mungkin ada cara penggunaan produk yang bisa dibalik? Chicken nugget misalnya. Dulu yang namanya masak ayam itu, ayamnya masuk kulkas dulu, baru kalau mau makan, dikeluarkan, dikasih bumbu, baru digoreng. Chicken nugget, membalik prosesnya. Dipotong kecil-kecil dulu, dibumbui, baru dimasukkan kulkas. Kalau butuh tinggal goreng.

Nah itulah metode SCAMPER. Anda bisa pakai tidak hanya untuk riset produk, tapi juga untuk membangun tim, membangun bisnis, agar pikiran Anda senantiasa out of the box. Pedagang, mengikuti arus. Pebisnis, melawan, atau bahkan menciptakan arus.

2/ Cara mencari produk

Sebenarnya untuk menjawab ini, saya agak dilema.

Kenapa? Karena sourcing yang paling bisa diandalkan dan mudah dilaksanakan ya di marketplace. Sedangkan marketplace banyak sekali dibombardir barang dari China dengan kualitas rendah. Dan kalau saya mengajarkan ini terus, lama-lama Indonesia terus dibanjiri barang-barang yang tidak bermanfaat. Mending kalau impor, tapi memang barangnya bagus dan memberikan nilai tambah yang benar-benar tinggi. Yang sering ada, banyak pemain impor produk yang tidak lagi peduli kemaslahatan masyarakat.

Tapi nggak apa-apa. Karena topiknya sekarang adalah “berdagang”, maka akan tetap saya ulas. Yang penting, pastikan Anda memang mengimpor produk yang sangat bermanfaat, baik, tidak berkompetisi terlalu sadis dengan masyarakat lokal, dan kalau perlu komposisi toko online Anda 50% barang lokal, 50% barang impor.

Marketplace yang bisa Anda gunakan sebagai riset:

  • Aliexpress
  • Tokopedia
  • Shopee
  • Bukalapak

Nah, cara pakainya simpelnya begini.

  1. HUNTING. Anda buka dulu Aliexpress. Hunting secara acak dulu aja. Gunakan scamper di kepala Anda. Bisa juga mulai dengan sejak awal Anda sudah tau nyari produk di segmen niche apa. Misalkan dapur. Nah mulailah untuk cari-cari. Scrolling. Cari kira-kira 10-20 barang.
  2. CHECKING. Setelah itu, cocokkan 10-20 barang tersebut di Tokopedia, Shopee, atau Bukalapak. Ada nggak? Kalau ada, sudah banyak belum penjualannya? Lacak dengan keyword-keyword lain. Jika nggak ada, maka lanjutkan ke proses berikutnya.
  3. ANALYZING. Berikutnya produk tersebut Anda analisa dengan SCAMPER. Manfaat apa saja yang bisa saya mainkan? Angle-nya apa saja? Strategi untuk exit-nya gimana kalau barang nggak laku? Ingat, risk before profit. Pastikan dulu Anda sudah meminimalisir semua faktor resikonya. Gunakan Core Audience Canvas.
  4. TESTING. Di tahap ini, Anda bisa membuat riset kecil-kecilan, menggunakan sistem pre-order. Buat landing page, buat ad creative, sediakan diskon besar. Tujuannya adalah untuk mengetes keberterimaan produk tersebut.
    1. Landing page Anda tidak usah berisi informasi tentang pre-order. Biarkan orang bisa mengorder.
    2. Setelah masuk ke sistem Anda, baru informasikan bahwa produk tersebut “habis”. Anda tidak perlu berbohong. Bisa Anda katakan bahwa sistem pemesanannya “pre-order” dan sebagainya.
    3. Hitung berapa potensial buyernya dengan iklan 100-300 ribu. Ini masuk alokasi biaya riset. Kalau ternyata sangat potensial, matikan iklannya.
    4. Ingat bahwa iklan Anda harus meng-exclude semua pesaing Anda. Saya sulit mengajarkan di bagian ini karena cukup panjang prosesnya. Silakan cari di web ini, sepertinya saya pernah mengulas. Atau Anda bisa join di NESTschool.id untuk ikut kelas workshop offline yang saya adakan. Disana saya bahas secara detail caranya, + mencari audience yang powerful.
  5. EXECUTING. Nah kalau sudah siap semuanya, Anda tinggal impor saja. Jika Anda belum tau bagaimana caranya, Anda bisa konsultasi dulu kepada yang sudah berpengalaman. Ada banyak di komunitas internet marketing para pakar bisnis export import yang bisa Anda follow.

3/ Kalau Tidak Mau Impor, Bisa Nggak?

Pasti ini pertanyaan besar Anda: “Mas saya tidak berani impor sendiri. Apa bisa hanya ambil dari marketplace saja?”

Nah, ini alirannya sama dengan saya sekarang. Apa yang saya lakukan?

  1. Kerjasama dengan produsen. Banyak sekali diluar sana orang yang bisa bikin barang, tapi nggak mampu mengembangkan market. Gunakan otak Anda secara tajam untuk mencari orang-orang seperti itu. Saya pribadi mendapatkan deal merger bisnis yang kapitalisasinya sekitar $2 Juta, tanpa saya punya barang. Teman saya (setelah saya advice) mendapatkan deal jualan properti belasan miliar, tanpa dia harus mengimpor sesuatu.
  2. Kerjasama dengan importir. Di marketplace itu banyak orang yang bisa mengimpor, tapi dia pikir jualannya hanya di marketplace saja. Saya punya murid yang saya suruh kerjasama dengan produk yang dia pasarkan lewat marketplace, sekarang punya profit tiap bulan 10 jutaan bersih. Malah berkembang menjadi partner beneran yang mulai mencari produk-produk yang belum ada di Indonesia tapi potensial.
  3. Manfaatkan rebranding. Gunakan scamper. Mungkin barang Anda itu-itu aja, yang jual banyak. Tapi kalau marketnya berbeda dan hanya Anda yang jual? Jadinya fresh lagi. Teman saya bisa dapat profit 50-100 juta per bulan, hanya dari merebranding sebuah produk yang “biasa aja” jadi keren. Tapi pastikan dulu memang barang yang dijual tersebut bermanfaat.

Nah demikianlah kira-kira. Tiga tips diatas, silakan Anda praktekkan. Kabari saya kalau Anda masukan lain, tambahan ide, atau keberhasilan ya. Terima kasih!