Petunjuk Lengkap: Cara Memulai Bisnis Walaupun Modal Anda Kecil

Topik ini adalah topik yang tidak habis-habis diulas sepanjang zaman. Tapi sepanjang saya mempelajari ini, ada banyak sekali yang tidak terbahas oleh orang-orang. Mungkin penulisnya hanya mengejar traffic, atau mungkin juga bukan pebisnis. Hehehe..

Saya akan mengulasnya dari sudut pandang saya sebagai orang yang pernah mengalami kegalauan di awal memulai bisnis.

1/ Membenahi Pemahaman

A. Menjadi entrepreneur adalah dunia yang Berbeda

Pertama-tama, Anda harus menyadari bahwa berbisnis itu adalah dunia yang berbeda 180 derajat dengan dunia kerja. Betul-betul berbeda.

Posisi employee, intrapreneur, dan entrepreneur

Silakan Anda perhatikan diagram venn diatas. Terdapat 3 pembagian utama dalam paradigma saya tentang cara orang mencari uang. Pembagian ini ditentukan oleh 1 faktor penting, yaitu inisiatif.

Yang pertama adalah employee atau pekerja. Jika Anda memutuskan untuk menjadi employee atau worker, maka inisiatif 100% tidak datang dari Anda. Anda hanya menjalankan kebijakan orang lain, sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan. Prestasi Anda diukur dengan ukuran-ukuran yang juga sudah ditetapkan. Di beberapa kasus, inisiatif malah akan menciptakan masalah baru.

Intrapreneur beda lagi. Anda memiliki sebagian kecil inisiatif di tempat kerja. Beberapa hal penting harus Anda putuskan secara mandiri. Biasanya kemampuan ini diharapkan di jajaran middle manager ke atas. Banyak orang yang tidak bisa bergerak dari staf ke manajer, karena tidak adanya inisiatif yang berhubungan dengan bisnis. Sedangkan para intrapreneur yang berhasil, mereka menunjukkan inisiatif dan kreativitas penting di dalam perusahaan.

Entrepreneur adalah ladang kerja yang 100% inisiatif diambil secara mandiri. Tidak ada inisiatif berakibat dirinya akan tidak berdaya dan gagal. Tidak ada orang yang menyuruh, tidak ada target dari orang lain, full 100% dari diri sendiri. Apakah nyaman? Belum tentu. Tidak semua orang mau berinisiatif karena inisiatif itu berat, harus mikir.

Nah.. Sekarang Anda sukanya berada dimana? Ini Anda harus pastikan dulu. Apakah Anda:

  • Mau belajar mengambil keputusan sendiri?
  • Ikhlas untuk belajar hal baru dari nol?
  • Berani mengosongkan gelas kepada orang yang lebih muda/lebih pintar dari Anda?
  • Berani untuk pasang badan kalau ada masalah apa-apa?

Kalau Anda sudah siap untuk itu, selamat. Anda mulai punya chance untuk masuk ke dunia entrepreneur.

Saya mau memberikan gambaran pada Anda. Bayangkan rasanya Anda memiliki di sebuah perusahaan, dengan gaji total karyawan yang harus dibayar setiap bulan nggak kurang dari 200 juta, setiap bulan. Belum lagi dengan sales yang harus diciptakan terus-menerus untuk menjaga keberlangsungan hidup mereka. Kalau ownernya nggak punya kapasitas yang saya bilang diatas, mana bisa survive?

So.. Menjadi entrepreneur itu bukan sekedar mencetak sales. Tapi bisnis. Secara utuh. Keseluruhan. Boleh salah, tapi gak boleh keterusan. Owner harus terus pintar dan makin pintar.

Kalau Anda belum siap untuk itu, saran saya mulailah dulu untuk menjadi INTRAPRENEUR. Carilah perusahaan yang nuansanya mandiri, baru berkembang, isinya anak muda semua, seperti perusahaan saya. 

Nanti disana Anda akan terdidik untuk diberikan ruang pengambilan keputusan, bahkan membuat bisnis baru, tanpa harus terbebani dengan resiko yang besar.

B. Memahami Marketing & Sales

Jika Anda sudah benar-benar siap untuk memulai, maka langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah: mempelajari cara berjualan, alias mencetak sales. Saya mengatakan ini karena judul diatas adalah “memulai dengan modal kecil”. Maka yang pertama kali saya sarankan bukan membuat atau merancang produk. Berjualan aja dulu. Karena saya pun dulu begitu!

Yang Anda lakukan adalah:

  • Hidup di pasar,
  • Ngobrol dengan orang di pasar,
  • Berjualan barang di pasar,
  • Kulakan barang di pasar untuk kemudian di jual lagi

Dalam hal ini, pasar bukan hanya pasar dalam arti sempit. Tapi pasar dimana ada pembeli dan penjual. Misal di facebook, marketplace, dan sejenisnya. Goal Anda disini hanya 1: berjualan, menghasilkan uang. Ini adalah satu-satunya skill yang setiap entrepreneur harus miliki. Tidak bisa tidak. Harus bisa. Titik.

Lho mas, apa harus jadi sales keliling gitu maksudnya? Ya nggak gitu juga kalii..

Thank to internet, sekarang orang introvert pun bisa berjualan. Saya ingin cerita sedikit. Dari kecil saya ini pendiam. Saya dulu kalau ditanya, hobinya apa, saya jawab merenung. Saya diketawain orang. Saya lebih suka ada di toko buku daripada di keramaian. Saya jauh mencintai pekerjaan membaca dan menulis daripada ngomong. Apa saya kemudian nggak bisa berjualan?

Ya nggak. Toh buktinya saya bisa jualan sampai ke ujung dunia pakai internet.

Nah, untuk bisa mencetak sales, yang perlu Anda pahami terlebih dulu adalah ilmu marketing; yang terdiri dari 2 cabang ilmu: komunikasi dan edukasi.

Bagaimana prakteknya untuk menguasai 2 ilmu itu?

Pertama, Anda harus tau dulu apa yang mau Anda jual. Detailnya seperti apa, kelebihannya apa, kekurangannya apa, ada masalah apa di masyarakat sehingga barang ini dibuat. Ini proses “merenung”. Kalo Anda nggak mampu, ngobrollah dengan pencipta barangnya, atau dengan orang yang berhasil jualan banyak barang seperti itu. Kenapa orang mau beli. Ini proses “micro research”. Anda riset, tapi ya modalnya cuma nanya dan mikir. Tanpa biaya. Pikirkan betul-betul.

Tujuannya apa kok mempelajari barangnya? Dalam rangka nantinya Anda akan melakukan proses edukasi! Kalau Anda sendiri nggak paham, gimana mau mengedukasi orang lain?

Saya pernah punya murid, hendak menjual sarung tangan golf.

Dia cari di marketplace, lalu langsung dia pasang di website. Sampai suatu hari dia tanya ke saya, kok nggak laku. Saya tanya balik, kamu pernah golf nggak? Paling nggak, pernah tau nggak golf itu gimana, apa yang ada di dalam pikiran pemain golf? Jawabannya nggak. Ya ngapain jualan sarung tangan golf? Bisa saya tebak sejak awal, 99% tidak akan laku! Jualan sarung tangan golf kok gelondongan, grosiran. Wong sarung tangan golf itu signature kok untuk para pemain, keren-kerenan, langka-langkaan, mahal-mahalan, lah ini kok malah jual banyak, seragam, murah pula!

Nah itulah pentingnya belajar dulu. Supaya paham.

Kedua, setelah paham barangnya, barulah kita berpikir tentang proses edukasinya. Bagaimana nih mengedukasinya? Apa yang mau kita edukasikan duluan? Urutannya gimana biar mereka paham manfaatnya? Apa duluan yang harus dikenalkan? Disinilah mulai kita melakukan analisa.

Pada bagian ini, erat sekali kaitannya dengan membangun proses alur komunikasi. Mengubah orang dari yang mereka tidak kenal masalah mereka, hingga mereka kenal solusinya. Eugene schwartz, seorang pakar marketing, memperkenalkan konsep yang sangat populer di dunia marketing; yaitu alur Schwartz Customer Awareness. Lebih detail tentang ini, Anda bisa membaca referensi yang sangat bagus disini. Berikut ini contoh proses edukasinya, saya ambil dari referensi link tersebut.

TOFU: Top Of The Funnel; MOFU: Middle of The Funnel; BOFU: Bottom of The Funnel

Saya nggak akan masuk ke detail pembahasan tentang ini di artikel ini, agar Anda tidak overwhelming. Artikel ini saya buat supaya Anda punya roadmap yang jelas dulu. Punya peta. Baru nanti action secara detailnya bisa kita bahas di artikel lain.

Ketiga, barulah Anda mulai masuk ke bagaimana cara mengkomunikasikan ke pelanggan. Pakai bahasa apa, pakai bagaimana copywriting-nya, bagaimana cara menyapanya. Setiap content di setiap fase, tentu berbeda. Cara menyapa di IG, cara menyapa di Podcast, sangat menyesuaikan tipe audience dan value mana yang ingin kita delivery disana.

TIPS: Belajarlah Copywriting Untuk Membuat Proses Komunikasi Kepada Calon Customer Anda Jadi Keren

Untuk cara berkomunikasi, Anda bisa belajar dari sebuah buku klasik yang cukup bagus. Judulnya: How To Write A Good Advertisement, oleh Victor O. Schwab. Buku ini adalah buku yang sering dirujuk oleh para copywriter dan dijual kembali materinya di seminar.

Beberapa referensi lain agar Anda juga makin kaya dalam belajar cara berkomunikasi dengan calon customer:

  • Book: How to write a good advertisement
  • Book: Cashvertising
  • Article: Neil Patel Ultimate Guide of Copywriting
  • Article: Quick Sprout Definitive Guide of Copywriting
  • Online Course: dan tentu saja, kalau Anda mau 1 paket course termasuk belajar Facebook Ads-nya secara online, Anda bisa belajar di Kelas Konversi
  • Offline Course: Saya juga punya kelas offline berupa workshop, kerjasama antara Facebook Asia Pacific dengan Woimedia, yaitu NESTschool. Materi dikhususkan untuk pemula.


Direct Response Copywriting Infographic

2/ Memiliki Medium Berjualan

Setelah Anda memahami 2 hal diatas, maka berikutnya Anda akan masuk ke dalam langkah yang teknis. Mudah, pertama kali Anda harus punya medium untuk berjualan.

A. Marketplace

Membuka toko di marketplace amatlah mudah. Khususnya di Indonesia. Anda tinggal pilih saja:

  • Shopee
  • Tokopedia
  • Bukalapak

Kalau mau marketplace yang lain silakan. Apa kelemahan dan kelebihan menggunakan marketplace?

Kelebihan

  • Tinggal membuat akun, selesai. Toko Anda bisa langsung dibuka. Mudah memulai.
  • Sudah ada pengunjung yang cukup ramai. Anda tinggal mencari produk apa yang laris di pasaran, lalu Anda ikut berjualan juga. Secara otomatis toko Anda akan turut diramaikan oleh marketplace tersebut. Bayangkan saja mall, Anda baru buka sudah ada orang yang berlalu lalang disana.

Kekurangan

  • Persaingan harga yang gila-gilaan. Barang Anda harus sangat murah. Orang masuk ke marketplace tujuannya mencari-cari barang yang murah.
  • Di satu titik tertentu, Anda tidak punya “kemerdekaan” dalam masalah data pengunjung toko Anda. Jelas, karena marketplace-nya bukan punya Anda. Anda hanya nebeng saja.
  • Anda bersifat “pasif” di toko Anda. Menunggu orang lewat. Karena Anda “tidak bisa” membawa orang masuk ke toko Anda dari luar. Dalam hal ini maksud saya adalah dengan cara mengiklankan toko Anda di Facebook misalnya. Bisa, namun akan seperti halnya menabur garam di lautan. Data orang-orang yang Anda bawa ke toko Anda, tidak bisa dimanfaatkan lebih lanjut. Dan tentu saja, Anda seperti “menyumbang” biaya iklan ke marketplace.

Mas Army pilih yang mana?

Kalau Anda :

  • Belum punya brand sendiri,
  • Suka yang pasif menunggu toko,
  • Hanya sekedar nyoba berjualan,

Marketplace is okay.

Tapi kalau Anda:

  • Belum ada brand,
  • Suka yang aktif memasarkan keliling dunia maya,
  • Ingin lebih mandiri,

Jangan pilih marketplace. Pilihlah website sendiri.

2/ Website

Website sendiri artinya Anda memilliki URL seperti www.namaTokoAnda.com. Kalau Anda pasang di baju kaos Anda, orang bisa lihat, dan ketika di cari di google, muncullah toko Anda. Kira-kira begitu.

Kalau Anda tidak terlalu paham dunia IT seperti saya, maka ada baiknya Anda langsung saja berhubungan dengan penyedia hosting dan meminta dilayani untuk mempersiapkan komponen penting dalam sebuah website. Apa saja:

  • Nama domain,
  • Hosting,
  • Instalasi CMS seperti wordpress,

Ini semua adalah yang diperlukan untuk memiliki website. Jangan bingung. Anda tinggal hubungi bantaihost.com atau perusahaan hosting lainnya untuk menyiapkan ini semua. Kebetulan bantaihost.com masih bagian dari bisnis saya juga, makanya saya referensikan ke Anda 🙂

By the way, membangun website tentang toko online tidak sama dengan website biasa (seperti blog ini misalnya). Jauh berbeda.

Saya telah mengulas di buku saya yang terbaru tentang apa saja hal-hal yang dibutuhkan oleh sebuah website toko online. Anda bisa membeli buku saya disini: Kick Off, Langkah Taktis Memulai Bisnis di Internet Melalui Facebook Ads.  Saya akan mengulas singkat disini supaya Anda punya gambaran saat membaca buku saya nanti.

  1. Website Anda harus memiliki standar kecepatan untuk toko online. Ini penting, agar nantinya ketika Anda mulai membangun pengunjung untuk datang ke website Anda, tidak terbuang sia-sia. Saya pernah menangani sebuah website, pengunjung aslinya ada 100 orang, namun ternyata yang berhasil membuka website hanya 20 orang. Sisanya? Hilang di tengah jalan karena website-nya lemot minta ampun.
  2. Website Anda harus dirancang dengan konsep OSP (One Single Purpose). Tujuannya hanya untuk mencetak transaksi. Enough. Cukup. Bagaimana detailnya? Agak rumit kalau dijelaskan disini.
  3. Website Anda juga harus memiliki flow yang jelas. Tidak harus berupa shopping cart seperti marketplace, yang penting mengandung langkah demi langkah yang dipahami oleh audience Anda.

Jualan lagi nih Mas Army. Di Kelas Konversi ataupun NEST School, saya mengulas part ini sangat mendalam, saking pentingnya. Kalau Anda bergabung disana, Anda bisa menghemat waktu proses trial & error selama 1 tahun belajar mencari komposisi yang pas dan ciamik.

3/ Belajar Membangun Traffic Melalui Traffic Source

Traffic source (sumber trafik) adalah tempat dimana manusia berkumpul, yang kemudian manusia itu Anda giring ke toko online Anda. Dimana manusia ini berkumpul? Ada 2 yang terbesar di Indonesia:

  • Google (termasuk konconya: Youtube)
  • Facebook (termasuk konco-konconya: WA, Instagram, Messenger)

Oleh karena itu, kuasailah 2 source ini, maka jalur cepat kaya Anda akan makin dekat.

Nah, berdasarkan biayanya, kita bisa membagi lagi menjadi 2 jenis kategori trafik :

  • Organik,
  • Paid (berbayar)

1. Organik

Trafik organik artinya datang sendiri, tanpa berbayar. Misalnya dari Google. Kalau kita mencari: “Army Facebook Ads” atau “Tutorial Facebook Ads”, maka muncullah seperti ini:

Nama saya dilliput dalam Facebook success story

Website saya muncul di halaman 1 google

Jika orang tersebut tertarik dengan apa yang menjadi judul artikel saya, dan kemudian dia masuk ke website saya, itulah yang dikatakan trafik organik. Apa ilmu yang harus Anda kuasai dalam hal trafik organik?

  • Teknis Google Optimization (SEO, Search Engine Optimization)
  • Instagram organik
  • Facebook organik
  • dan sejenisnya yang berbau organik

Saya sarankan porsi Anda belajar topik ini hanya sekitar 30% saja. Kenapa, karena lagi-lagi, Anda tidak bisa mengatur maunya Google atau Instagram. Setiap tahun pencarian organik mengalami penurunan, karena Facebook tidak ingin memberikan trafiknya secara cuma-cuma. Akibatnya, ada orang yang sudah berjuang bertahun-tahun mengandalkan hanya organik di Facebook, bisnisnya hancur dalam semalam.

Trafik organik di page yang sudah dibangun, lama-lama menurun

2. Paid Traffic

Trafik yang berbayar beda lagi. Coba kita perhatikan hitung-hitungan berikut ini.

  • Misalkan Anda punya website, dikunjungi oleh 10,000 orang
  • Lalu dari 10,000 orang tersebut, yang berminat ada 3%, maka artinya ada 3000 orang peminat dagangan Anda
  • Lalu dari 3000 orang tersebut, 10% membeli, artinya ada 300 pembeli barang Anda
  • 300 x 300.000 (omset Anda), maka Anda mendapatkan Rp 90.000.000
  • Anggaplah keuntungan Anda 30% maka Anda mengantongi Gross Profit Rp 27 Juta
  • Sekarang kita kembali ke awal. Untuk mendapatkan 10,000 orang tadi, berapa uang yang Anda keluarkan?
  • Misalkan Anda mengeluarkan Rp 500 untuk 1x kunjungan orang. Maka biaya Anda adalah 500 x 10,000 yang artinya Anda mengeluarkan uang Rp 5.000.000 untuk mendapatkan 10.000 kunjungan.
  • Nah, Gross Profit Anda 27 juta. Biaya untuk mendatangkan pengunjung cuma Rp 5 juta. Artinya Anda untung berapa? 27 juta – 5 juta = 22 Juta. WOW..

Mungkinkah hitungan di atas? Kenapa tidak? Sudah ada ratusan bahkan mungkin ribuan murid saya yang sudah mempraktekkan dan berhasil. Tinggal kuncinya, Anda mau belajar atau nggak.

Salah satu trafik yang bisa Anda andalkan adalah Facebook ads. Cara memulainya, Anda bisa start dari halaman ini > tutorial facebook ads. Saya sudah mengulasnya dengan sangat detail disana.

Mas, Apakah berjualan lewat Facebook atau Instagram masih works?

Pertanyaan itu datang bertubi-tubi ke saya, dan yang bertanya cenderung skeptis. Pertama-tama, ingat. Anda tidak sedang membangun sebuah imperium bisnis di awal. Ingat bahwa di halaman ini, detik-detik awal Anda berbisnis, yang dicari dan dipelajari adalah little success. Keberhasilan kecil. Ada sales dulu lah. Untung dulu lah toko Anda.

Maka kita bermain angka.

  • Masak dari ratusan juta pengguna Facebook itu, tidak ada yang suka barang Anda?
  • Masak dari ratusan juta pengguna Instagram itu, tidak ada yang mau beli barang Anda?

Dulu tugas kita ketok pintu. Jadi sales. Keliling.

Sekarang tugas kita tinggal beriklan. Menjajakan barang yang kita punya. Jangan gengsi punya toko online.

Setelah bisnis Anda besar, dapat untung puluhan juta sampai ratusan juta per bulan, mulai berpikir dari akhir. Mulai membangun brand. Anda sudah punya modal untuk melangkah lebih besar dan lebih strategis.

Resume tulisan diatas dalam mind map

4/ Mas, Katanya Modal Minim. Kok Kayaknya Banyak Nih?

Nah sekarang karena judulnya adalah cara bisnis dengan modal kecil, mari kita berhitung lagi, berapa modal yang dibutuhkan.

  • Website: Rp 50.000 per bulan
  • Nama domain: Rp 150.000 per tahun
  • Sumber produk: mencari dan nego di marketplace. Gratis.
  • Menyetting website secara mandiri: Gratis.
  • Beriklan di Facebook ads: Rp 30.000 per hari. Yang didapatkan, kurang lebih Rp 30.000/500 (harga estimasi per 1 klik) = 60 klik.
  • Pulsa, listrik, wifi: anggaplah masih ikut pemakaian sehari-hari kita. Gratis.

Bagaimana hasilnya?

  • 60 klik x 30 hari = 1800 visitor (pengunjung website kita) dalam 1 bulan
  • Dari 1800 visitor tersebut, 2% mau membeli dagangan Anda
  • 2% x 1800 = 36 transaksi
  • Profit = 36 x 100.000 = 3.600.000
  • Dikurangi dengan biaya iklan 30.000 x 30 hari = 900.000
  • Maka untung kotor Anda = 3,6 juta – 900 ribu = 2,7 juta.
  • Sisanya tinggal Anda atur-atur aja pos pengeluaran yang lain seperti website dan domain.

Berapa modalnya? Murah kan? Ini sudah yang paling sederhana banget. Saya nggak tau apalagi yang lebih sederhana dari ini. Kalau ada yang lebih murah dan lebih mudah, kasitau saya. Saya mau ikutan juga, hehehe..

Kembali lagi, bisnis murah bukan cuma sekedar produknya aja. Banyak orang bilang MLM itu murah joinnya. Iya joinnya murah, tapi untuk dapat trafiknya? Untuk dapat transaksinya? Biasanya tetap mengeluarkan uang juga. Intinya tetap sama:

  • Produknya apa,
  • Disajikannya dimana,
  • Cara menyajikannya gimana,
  • Untuk mendatangkan orangnya butuh apa

Oke sekian dulu dari saya kali ini. Panjang banget, capek tangan saya nulisnya. Hehehehe.. Semoga sukses!