Apa Sih 3 Metrics Terpenting Dari Sebuah Toko Online? (Beserta contoh)

Sudah sekian lama saya sudah tidak menulis di blog ini, Alhamdulillah domainnya tidak hilang 🤣

Biar nggak kagok, saya nulis kembali hal yang ringan aja ya. Kali ini saya ingin mengulas tentang metric, hal yang tidak pernah usang dimakan zaman.

Minimal ada 2 metrics penting yang harus Anda perhatikan di dalam sebuah bisnis online, baik Anda menggunakan paid traffic ataupun organic traffic. Apa saja?

1/ Add to cart rate (ATC Rate)

ATC rate adalah perbandingan antara event add to cart dan landing page views. Ibaratnya perbandingan antara orang yang membawa barang ke kasir dengan orang yang datang ke toko Anda. Kenapa ini penting? Karena ini menggambarkan secara utuh bagaimana kinerja landing page Anda yang meliputi:

  • Copywriting,
  • Offer produk,
  • Estetika,
  • Trust element,
  • dsb

Semakin baik kinerja landing page Anda, akan semakin tinggi ATC rate yang Anda miliki. Tapi ingat, tidak berlaku sebaliknya.

ATC rate yang tinggi, belum tentu menggambarkan kinerja landing page. Jika Anda melakukan trik-trik khusus di landing page yang akhirnya membuat ATC rate Anda tinggi, ya itu sama saja dengan membohongi diri sendiri. Contoh hal-hal yang bisa menaikkan ATC rate secara superficial:

  • Memasang floating button,
  • Sengaja membuat image/elemen tertentu yang bisa memicu accidental click, atau
  • Memotong informasi sehingga memunculkan rasa penasaran.

Selain tidak akan memberikan efek apapun ke dalam toko Anda, hal ini bisa menyebabkan Anda merusak kinerja algoritma iklan (jika Anda menggunakan paid traffic).

So, naikkan angka ATC rate Anda secara fundamental. Fokus pada apa-apa yang saya sebutkan di atas tadi.

Berapa mas lazimnya ATC rate ini? Semua kembali kepada apa yang Anda jual. Ada beberapa orang yang memiliki ATC rate kecil (sekitar 3-5%) tapi tokonya sudah profitable dan memang itu lazimnya di industri dia. No problem berarti. Ada yang 10% pun masih kurang, karena lazimnya di industri dia sekitar 20% angka lazimnya. Kalau saya sendiri, di dalam bisnis saya sendiri, saya menetapkan angka 15-20% sebagai standar kinerja semua toko online saya.

2/ Lead rate

Lead rate adalah perbandingan antara orang yang benar-benar mengontak bisnis kita, memberikan credential mereka kepada kita, dibandingkan dengan mereka yang add to cart. Jangan terkecoh dengan istilah; lead rate bisa berarti initiate checkout rate, bisa juga payment rate, dst. Intinya adalah orang yang take action setelah mereka interest terhadap toko kita.

Metric ini memberikan gambaran kepada kita mengenai kinerja halaman form kita. Halaman form adalah halaman yang biasa kita isi dengan identitas, alamat, no HP, dll seputar order dan pengiriman barang yang Anda pesan. Apa saja yang memengaruhi naik dan turunnya angka metric ini?

Semakin rumit isian form Anda, akan semakin “halus” saringan Anda, yang mana artinya akan semakin sedikit orang yang mau dan berkenan mengisi form yang Anda buat. Namun biasanya, semakin tinggi pula kemungkinan untuk benar-benar closing. Coba simak contoh di bawah ini:

Form ini, masya Allah banget. Sangat rumit, complicated, sampai saya akhirnya batal beli dari toko ini. Padahal saya adalah calon customer yang sangat penting buat dia. Saya mau transaksi agak lumayan total harganya. Bayangkan orang-orang seperti saya, pasti juga akan jiper untuk checkout dengan form seperti ini.

Berapa metric lead rate nya? Saya yakin pasti mendekati nol 😁 Tapi saya yakin juga, orang yang benar-benar mau mengisi form seperti di atas, pasti transaksi.

Berhubung saya menggunakan funnel 3 lapis, maka metric penting bagi saya ada 3. Tapi jika bisnis Anda menggunakan funnel 4 lapis, maka Anda bisa menambahkan metric berikutnya yang harus Anda pantau, yang tentunya tidak akan saya bahas di sini karena saya tidak memraktekkannya.

3. Conversion Rate / Closing Rate

Conversion rate/closing rate adalah rasio transaksi yang benar-benar terjadi di dalam toko Anda terhadap jumlah lead yang masuk. Kalau di dalam praktek umum toko online di Indonesia, hal ini umumnya banyak bergantung pada performance sales/CS Anda. Tapi jika kualitas lead yang masuk tidak berkualitas, sehebat apapun CS Anda, tetap juga akan ambyar closing rate Anda.

Angka yang lazim biasanya berkisar di 50-70%. Makin tinggi jelas makin bagus. Saya punya prinsip, semakin kita berhasil “memasak” lead yang masuk, maka rasio ini akan makin tinggi.

Berikut ini adalah contoh salah satu toko online saya dengan visualisasi software https://ctr.id.

Pada dashboard terlihat:

  • add to cart rate (ATC / LPV) = 18.5%
  • lead rate (CI / ATC) = 28.64%
  • Conversion rate/closing rate (Purchase / CI) = 53%

Keterangan:

Angka purchase di sini adalah angka yang terbaca di dalam dashboard FB ads yang “diaddress” sebagai dampak dari iklan, bukan total purchase yang terjadi di dalam toko. Maknanya adalah agar kita tahu secara (mendekati) akurat, berapa sih penjualan yang terjadi akibat iklan di FB ads; bukan penjualan yang terjadi sebagai organik.

4 thoughts on “Apa Sih 3 Metrics Terpenting Dari Sebuah Toko Online? (Beserta contoh)”

  1. Terima kasih mas, saya ada 2 pertanyaan:

    1. Apakah penempatan tanda panah bergerak di atas button atc dan ukuran button atc yg lumayan besar termasuk hal yg akan mempengaruhi kinerja algoritma paid ads?
    2. Bagaimana cara mas menampilkan metrik purchase/ci di dashboard fb ads?

    1. 1. Kalau tanda panah tersebut mempengaruhi behavior pembaca LP nya, maka tentu saja akan mempengaruhi kinerja algoritma FB ads terhadap iklan kita.
      2. Upload secara berkala purchase conversion yang terjadi di CS kita ke dalam FB ads, otomatis akan muncul di dalam kolom purchase.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top