Pentingnya A/B Testing

Mungkin ada diantara Anda yang belum tau, apa itu A/B Testing.

Nah, A/B Testing ini adalah semacam menguji apakah landing page Anda sudah sesuai dengan tujuan, atau belum. Jadi teknisnya, traffic yang masuk ke website Anda "dilandaskan" ke beberapa variasi landing page, agar ketemu landing page mana yang paling menghasilkan konversi terbaik.

Masalahnya, realisasi hal ini ribet banget. Contoh langkah-langkahnya:

  • duplicate page,
  • setting di WP,
  • setting di analytics,
  • plotting manual di excel untuk membaca data
  • dan sebagainya

Otak sudah mumet, ngajarin ke tim, mereka ikutan mumet. Mau pake SaaS ala ala VWO Optimizer, sudah gak ada waktu lagi mempelajari. Tapi saya tau bahwa INI PENTING! Makanya meskipun jarang dilakukan, saya tetap MEMIMPIKAN ketemu semacam SOLUSI untuk masalah saya.

Flashback

Kemudian kira-kira 1-2 bulan yang lalu, Khalid ngasitau saya sebuah hal. Tujuannya adalah mengulik landing page agar mudah. Nama hal tersebut adalah: Thrive Architect. Saya singkat TA agar mudah ngomongnya ya.

Si TA ini adalah plugin yang sejenis Elementor, live editor untuk membuat landing page. Bedanya, TA ini bayar langsung, sedangkan Elementor ada versi gratisannya.

Saya mau beli, tapi ragu-ragu. Kenapa?

Karena saya sering mendapat "kutukan" kalo berhubungan dengan hal-hal yang berbau teknis. Seneng ngulik, tapi sering lost in the jungle. Nguliknya kejauhan, lupa ngebalikin lagi ke settingan awal. Jadi sering banget minta tolong seorang penyelamat yang namanya "Imam Herlambang".

Selain itu, harga ngetesnya juga lumayan. Sekitar $60.

Karena saya pengen tau banget, akhirnya saya minta 1 license ke Khalid supaya ngerti "gambaran utuhnya" plugin TA ini. Kok nggak nanya Khalid aja? Dia taunya cuma "ini TA bisa ngasih optin box, dipasang di website gampang." Udah itu aja!

Pas saya pake sendiri, lah beneran enak ternyata! 

  • Ngedit padding (kanan kiri atas bawah jarak layar ke tulisan) tinggal scroll drag
  • Mau ngedit tulisan, langsung di preview kayak di editor WP beneran
  • Semua element sudah difokuskan untuk yang paling pentingnya aja buat nyiptain konversi
  • Integrasi optin email dengan hampir semua email service ada. Kalaupun gak ada, integrasinya mudah banget! 

Akhirnya saya putuskan untuk beli beneran. Saya tau bakal ngehemat sangat banyak uang pakai TA ini. Selain itu, ada sodaranya Thrive Architect yang namanya Thrive Optimize yang akan saya ceritakan powerfulnya setelah ini.

Real Test & Result

Kembali ke topik A/B Testing.

  • Project: menjual sesuatu di lokal dengan harga jual sekitar 350 ribuan.
  •  Action plan: Awalnya saya hanya membuat 1 landing page (dengan TA)

Fase pertama yang saya lakukan adalah fase riset. Saya coba datangkan traffic, mengetes iklan, LP, dan semua hal. Intinya adjust the system. 

Nah, seiring waktu saya ngerasa ada yang salah nih dengan LP yang saya buat. Pakai perasaan. Karena conversion yang terjadi belum maksimal, cuma gak tau di bagian mana errornya

Saya menggunakan salah satu TA Family yang ada di full membership Thrive Architect, namanya Thrive Optimize. Plugin ini tuujuannya adalah A/B Testing.

Kenapa saya pake ini? Karena sudah terintegrasi dengan TA, dan interface nya kebangetan mudahnya. Serius. Super simple, sekaligus menjawab permasalahan saya yang sudah mengerak, menahun, seperti borok yang nggak sembuh-sembuh.

Yang saya lakukan:

  • Saya buat 3 landing page berbeda,
  • Setiap landing page, isinya sama persis, hanya beda di color dan header 

Saya membuat variasinya dibawah 15 menit. Sudah jadi 3 LP.

Setelah saya running beberapa hari, didapatkan data sbb:

Anda bisa lihat sendiri. Ada perbedaan signifikan ternyata. Dengan hasil ini, saya akhirnya tau alasan kok perasaan saya nggak enak. Ternyata landing page saya parah! Dalam hati saya: "Njirrrr... Jadi selama ini saya kehilangan potensi konversi sebesar 24.75%!"

Pelajaran Yang Saya Petik & Rencana Saya

  1. ‚ÄčJangan pernah hanya mengandalkan 1 cara. Dunia digital adalah dunia berbasiskan data. Jika saya ingin mengambil sebuah kesimpulan, gunakan data yang banyak dan pengujian.
  2. Dalam konteks landing page, kata-kata pada header dan warna amat sangat PENTING. Saya baru tau pentingnya header setelah saya punya pembanding. Oleh karena itu, FIX saya pasti akan menggunakan A/B Testing di setiap landing page saya
  3. Jangan melakukan scaleup sebelum  tau bahwa landing page  saya betul-betul convert. Seperti data saya diatas, kalau saya scale di landing page pertama, maka yang terjadi adalah saya kehilangan 25% potensi konversi, dimana itu SANGAT BESAR. 
  4. Setelah ini saya akan membuat varian yang lebih banyak (tidak sekedar 3 LP), dengan berbagai variasi header, color, dan offer dengan Thrive Optimize. 
Copyright 2017 Scaleup Club | Army Alghifari