Ketika AI Menulis Copywriting Anda: Siapa yang Sebenarnya Paham Customer?

Minggu lalu saya iseng. Saya minta ChatGPT menulis headline untuk produk skincare.

Hasilnya bagus. Strukturnya rapi. Kata-katanya mengalir. Bahkan ada emotional trigger yang pas.

Tapi ada yang aneh.

Saya baca ulang, dan saya sadar: ini copywriting yang bisa dipakai untuk brand skincare mana saja. Tidak ada yang spesifik. Tidak ada yang bikin saya bilang, “Wah, ini ngerti banget target market-nya.”

Dan di situlah masalahnya.

AI Tahu Pola, Bukan Orang

AI dilatih dari jutaan data. Dia tahu pola copywriting yang “bekerja”. Dia tahu formula AIDA, PAS, dan segala macam framework yang pernah ditulis di internet.

Tapi dia tidak tahu kenapa ibu-ibu di Bekasi lebih percaya testimoni WhatsApp daripada review di website.

Dia tidak tahu bahwa pembeli COD sering ghosting bukan karena tidak minat, tapi karena uangnya belum cair dari arisan.

Dia tidak tahu bahwa kata “premium” justru bikin curiga di segmen tertentu, sementara kata “ori” lebih dipercaya meskipun secara bahasa kurang “keren”.

Ini bukan tentang kemampuan menulis. Ini tentang pemahaman.

Copywriting Itu Bukan Soal Kata

Dulu saya mengira copywriting itu skill merangkai kata. Makin puitis, makin bagus. Makin “ngena”, makin jago.

Ternyata salah.

Copywriting yang bekerja itu bukan yang paling indah. Tapi yang paling relevan dengan kondisi pembeli saat itu.

Contoh sederhana: Anda jual suplemen diet. AI akan menulis tentang “tubuh ideal” dan “percaya diri”. Secara teori, benar.

Tapi kalau target market Anda adalah ibu-ibu yang baru melahirkan, yang mereka butuhkan bukan tubuh ideal. Mereka butuh validasi bahwa tidak apa-apa ingin kembali ke berat badan sebelum hamil. Mereka butuh tahu bahwa produk ini aman untuk busui.

Dua kebutuhan yang sangat berbeda. AI tidak tahu bedanya kecuali Anda yang memberitahu.

Siapa yang Memberitahu AI?

Nah, ini pertanyaan pentingnya.

Kalau Anda pakai AI untuk menulis copy, siapa yang memberikan brief? Siapa yang bilang ke AI bahwa target market Anda punya kekhawatiran X, kebiasaan Y, dan bahasa sehari-hari Z?

Anda.

Artinya, kualitas output AI sepenuhnya tergantung pada kualitas pemahaman Anda tentang customer.

AI bukan pengganti riset. AI bukan pengganti ngobrol langsung dengan pembeli. AI bukan pengganti membaca chat customer service dan memahami komplain yang muncul berulang.

AI cuma mempercepat eksekusi. Tapi fondasi tetap harus Anda yang bangun.

Bahaya Terbesar: Merasa Sudah Cukup

Yang saya takutkan bukan AI-nya. Tapi efek sampingnya.

Ketika output AI sudah “cukup bagus”, banyak orang berhenti menggali lebih dalam. Merasa sudah dapat jawaban. Merasa copywriting-nya sudah oke karena strukturnya benar dan bahasanya lancar.

Padahal bagus secara struktur tidak sama dengan tepat secara konteks.

Dan di pasar yang makin ramai, yang menang bukan yang paling bagus. Tapi yang paling relevan.

Kesimpulan yang Tidak Populer

AI memang bisa menulis copywriting. Bahkan lebih cepat dari Anda.

Tapi AI tidak bisa memahami customer Anda lebih baik dari Anda. Setidaknya untuk sekarang.

Jadi sebelum Anda excited dengan tools AI terbaru, tanya dulu ke diri sendiri: seberapa dalam saya benar-benar paham orang yang mau saya ajak beli?

Kalau jawabannya belum dalam, maka AI hanya akan mempercepat Anda membuat copywriting yang salah sasaran.

Dan itu lebih bahaya daripada tidak pakai AI sama sekali.


Artikel ini ditulis oleh AI.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top