Pyrrhus dan Impian-Impian Megahnya

Pyrrhus menerawang sambil memegang erat lembaran surat yang dilayangkan oleh Kerajaan Tarentum. Ia membayangkan kerajaan yang ia pimpin, Epirus, menjadi tersohor, dengan ia menjadi penguasa Italia, penakluk Sicilia, dan mungkin Kartago yang adidaya di Afrika Timur.

“King Pyrrhus, titisan Alexander Agung.” Mungkin begitu dalam pikirannya.

Tanpa berpikir panjang lagi, tawaran itu diterima oleh Pyrrhus.

***

Tarentum adalah kota yang paling makmur di daratan Italia. Masyarakatnya hidup diatas kecukupan rata-rata. Tarentum juga merupakan koloni dari Sparta, satu-satunya kerajaan di Italia yang penduduknya berbahasa Yunani, karena warisan dari nenek moyang mereka. Selain itu, mereka juga mewarisi kebiasaan dan adat istiadat dari Sparta yang gemar berperang dan menjajah.

Namun demikian, Tarentum adalah satu-satunya kota yang tak memiliki pasukan bersenjata secara serius. Mereka lebih suka memilih membayar sekutunya untuk berperang.

credit: ancient.eu

Sekarang Tarentum sedang siaga merah karena ulah sendiri. Mereka tengah menghadapi tekanan dari Roma, yang hendak membalas dendam kepada mereka. Beberapa kali kapal dagang kerajaan Roma dirusak oleh penduduk Tarentum, para admiral laut mereka dibantai, dan ketika Roma mengirim utusan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi, malah para utusan tersebut dicederai. Kerajaan Roma menganggap, ini adalah ajakan berperang.

Sekutu yang dihubungi oleh Tarentum adalah Pyrrhus, raja Epirus. Epirus merupakan kerajaan kecil di Yunani. Mereka tidak memiliki tanah ladang yang subur, sehingga karakter penduduknya keras. Turun temurun mereka diberi dongeng bahwa mereka titisan Achilles sang Dewa Perang, dan masih ada hubungan darah dengan Alexander yang Agung. Kisah ini memberikan andil terhadap kepribadian penduduk Epirus, sehingga mereka semua sangat terlatih dalam berperang.

Pyrrhus adalah satu terbaik yang mewarisi darah perang tersebut. Sejak muda ia sudah turut dalam peperangan besar bersama Ptolemy dan Alexander Agung, menaklukkan kawasan demi kawasan, hingga ia mendapat julukan “The Eagle”. Pyrrhus sangat haus akan perang, dan ingin mensejajarkan kerajaannya dengan Sparta, Macedonia, dan Athena.

Oleh sebab itu, tawaran Tarentum bagaikan oase di padang pasir. Ia sudah berpikir untuk menaklukkan Italia, tersohor di Barat dan menguasai Mediterania, sementara Alexander Agung menguasai Timur. Ia ingin sejajar dengan Alexander Agung.

Perang Demi Perang

Sejarah mencatat kemudian, armada Pyrrhus adalah armada terbesar yang dibawa melintasi laut dari Yunani ke Italia. Pyrrhus membawa 35 ribu infanteri, 3000 kavaleri, 2000 pemanah, dan 20 gajah.

Setibanya mereka di Tarentum, Pyrrhus tercengang. Ia tidak benar-benar menyadari bahwa ternyata Tarentum tidak memiliki pasukan bersenjata sama sekali. Pyrrhus memutuskan mengkudeta Tarentum dan menambah armada perang dengan melatih penduduk Tarentum itu sendiri.

Kehadiran Pyrrhus di Tarentum menebarkan rasa was-was dari para Romans. Mereka sudah mendengar kabar mengenai keahlian Pyrrhus sebagai jenderal perang yang ambisius. Para jenderal Romawi akhirnya memutuskan segera melancarkan serangan ke Tarentum sekaligus kepada Pyrrhus agar mereka tidak punya waktu lagi untuk membangun bala tentara tambahan. Peperangan ini kemudian terkenal dengan nama: The Battle of Heraclea, di kota Heraclea tahun 280 BC.

Pyrrhus yang belum sempat membangun pasukan tambahan, terdesak dan kalah jumlah dengan tentara Roma. Namun Pyrrhus tak kurang akal. Ia melepaskan jurus rahasia: Gajah perang. Saat itu tak terbersit sedikit pun bahwa ada tentara yang berperang dengan menggunakan gajah. Akibat dari itu, tentara Roma tunggang langgang.

Perang ini akhirnya dimenangkan oleh Pyrrhus dengan jumlah korban perang yang sangat besar. Nama Pyrrhus semakin tersebar di Peninsula Italia dan digadang-gadang sebagai titisan Alexander Agung. Kerajaan-kerajaan lain turut membantu recovery Pyrrhus dari kemenangan atas Roma.

Meski demikian, Pyrrhus masih khawatir. Ia menderita luka perang yang tidak sedikit. Para jenderal terbaiknya gugur. Separuh lebih pasukannya tewas dengan jumlah belasan ribu. Pyrrhus terkagum dengan disiplin para tentara Roma, sebuah armada perang yang ia tidak pernah berpikir bahwa akan sedisiplin itu. Ia mulai khawatir dengan adanya perang susulan di masa depan.

Demi perdamaian, akhirnya Pyrrhus berangkat ke Roma dan berusaha berdiplomasi dengan kerajaan Romawi. Diplomasi ini tidak membawa hasil. Romawi terlalu besar untuk mengaku kalah. Mereka menolak mentah-mentah. Italia terlalu berharga untuk dibagi bersama Pyrrhus.

Peperangan besar terjadi kembali. Kali ini dunia mengenal dengan nama: The Battle of Asculum, karena peperangan itu terjadi di kota Asculum yang tak jauh dari Roma, pada tahun 279 BC, setahun setelah perang di Heraclea.

Kemenangan Semu

The battle of Asculum akhirnya kembali dimenangkan oleh Pyrrhus. Pyrrhus sangat ahli dalam memanfaatkan kontur dan area peperangan, menaklukkan para tentara Roma yang kewalahan dengan manuver-manuver Pyrrhus. Kemenangan ini kembali memakan korban yang jauh lebih banyak. Lebih dari 3/4 pasukan Pyrrhus gugur beserta jenderal-jenderal andalan. Perang ini sangat dahsyat, menimbulkan kerugian yang luar biasa bagi Pyrrhus, meskipun Pyrrhus menang.

Pyrrhus lupa bahwa kerajaan Romawi masih memiliki armada perang cadangan yang meskipun mereka kalah di Asculum, namun mereka tetap tidak terganggu, tidak bangkrut, dan masih bisa berperang kembali. Para sekutu memberikan selamat kepada Pyrrhus, namun Pyrrhus menimpali, “Jika sekali lagi kita perang melawan Romawi dan menang, maka kita tidak akan lagi memiliki apapun”.

Kemenangan di Asculum tidak memberikan Pyrrhus kejayaan pada akhirnya. Di akhir hayatnya Pyrrhus harus menenggak pil pahit, semua impiannya kandas, dan Tarantum berhasil dikuasai Roma pada 270 BC, 9 tahun setelah peperangan di Asculum. Kisah ini kemudian diceritakan turun temurun dan dikenal dengan istilah “Pyrrhic Victory”. Sebuah kemenangan yang nyatanya adalah kekalahan. Win the battle but losing the war. 

***

Kita semua memiliki impian dan cita-cita pribadi. Namun jangan lupa, kita punya misi besar di dunia ini.

Kita masih harus menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita, kita punya tanggung jawab terhadap lingkungan dimana kita berada, kita juga memiliki kewajiban finansial bagi masa depan kita, disamping kita pun harus menjaga jasad titipan Tuhan ini.

Kita tidak ingin menjadi Pyrrhus yang menang, tapi mengorbankan segalanya. Kita tidak mau menang, tapi sejatinya adalah kalah.

Scroll to Top