The Very First of Facebook Ads

[Artikel ini saya buat pada bulan Agustus 2016. Artikel-artikel sebelumnya yang pernah saya tulis, sebagian akan terangkum dan ter-update dalam artikel ini.]

Sebelum Anda beriklan dengan Facebook Ads, Anda harus memahami terlebih dahulu bagaimana cara Facebook Ads bekerja. Hal ini penting agar Anda tidak mudah bingung dan panik kalau suatu saat iklan Anda memberikan hasil yang tidak seperti yang diharapkan.

Facebook Ads adalah sebuah Auction/Lelang

Sebelum iklan Anda ditayangkan, Facebook melelang posisi “timeline” usernya kepada pada Advertiser. Jadi advertiser akan “berlomba” antara satu dengan yang lain, misal :

      • Facebook membuka “spot kosong” di timeline Mr. Tono.
      • Lalu datanglah 2 advertiser yang saling berusaha memperoleh skor tertinggi. Advertiser A mendapat skor misal 200. Advertiser B mendapat skor 400.
      • Maka saat itu, secara sederhana, advertiser B menang, dan Facebook mengizinkan Advertiser B memasang spot kosong tersebut di waktu yang telah ditentukan.

Perlu dicamkan bahwa walaupun saya katakan “membidik” sebuah nilai tertentu, kita tetap tidak bisa mengetahui secara langsung, berapa nilai pastinya. Yang kita bisa hanya memprediksi dari indikator-indikator yang bertebaran di dashboard.

Pertanyaannya, angka 200 dan 400 itu apa? Rupiah? Dollar? Atau apa?

Angka 200 dan 400 itu bukanlah sebuah mata uang, melainkan SKOR yang dihasilkan dari serangkaian rumus tertentu, dimana ini cuma Facebook yang tau. Karena ini rahasia dan teknologi mereka.

Dari sekian ratus ribu variabel yang menyusun rumus tersebut, ada 2 hal yang paling inti. Fyi, Sebelumnya saya pernah membuat artikel dan menyatakan di bagian ini terdapat 3. Tapi demi kesederhanaan dan supaya Anda cepat paham, maka saya membuat ini menjadi lebih simpel dan praktikal.

      1. Engagement
      2. Bid

Semakin Anda memiliki skor yang tinggi diantara kedua hal itu, maka semakin berpotensi iklan Anda memenangkan lelang Facebook.

Mengapa Engagement?

Facebook adalah media sosial. Artinya tempat orang-orang berkumpul dan bersosialisasi. Mereka akan makin jaya kalau jumlah usernya makin banyak dan lama berada di Facebook. Tentu akhirnya mereka akan berjuang mati-matian, bagaimana caranya semua orang suka Facebook dan nyaman berada di dalamnya.

Masalah utama Facebook: banyak sekali orang yang memanfaatkan Facebook sebagai sarana spamming sehingga user tidak betah berada di dalam Facebook.

See, kata kuncinya adalah user betah berlama-lama di Facebook.

Nah sekarang kita masuk dalam logika berpikir Facebook terhadap iklan. Semua orang pada dasarnya tidak suka melihat iklan. Coba Anda nonton TV dan kemudian lewat iklan. Pasti Anda agak merasa terganggu kan? Kecuali iklan yang membuat efek wow dan Anda terhibur. Sama dengan di Facebook. Mereka membutuhkan iklan yang memberi efek wow dan menghibur, supaya user betah berada di Facebook dan berlama-lama di dalamnya menghabiskan waktu.

Maka.. Ukuran yang dipakai untuk melihat apakah sebuah iklan itu menganggu ataukah tidak, adalah engagement. Semakin efisien harga cost per engagement, maka semakin tinggi kualitas sebuah iklan.

Nah, berkaitan dengan engagement, hal yang paling mendasar dan berpengaruh terhadap terjadinya engagement adalah kesesuaian antara creative dan audience. Bab ini akan saya ulas, tapi tidak dalam artikel saat ini.

Pertanyaan yang akan muncul di kepala Anda setelah membaca penjelasan saya diatas kemungkinan besar adalah : “Kenapa saya iklan dengan menggunakan boost post atau PPE sekarang malah tidak ada penjualan?” Pertanyaan ini tidak akan saya jawab dalam artikel ini, melainkan artikel tersendiri karena ada hubungannya dengan pola audience yang sekarang dikembangkan Facebook.

Mengapa Bid?

Semakin lama, orang yang beriklan di Facebook semakin banyak. Artinya ini adalah kesempatan bagi Facebook dalam mencari uang. Kalau Anda memiliki angka bid yang kompetitif, maka tentu saja Anda akan mendapat kredit penting dari Facebook. Facebook bisa memetakan kemampuan Anda dalam beriklan, dan bisa memberikan Audience yang cocok dengan keinginan Anda.

Contoh kasus.

Suatu hari Anda ingin berjualan tempe. Saat Anda beriklan di Facebook, Anda menetapkan asumsi hal-hal sebagai berikut :

  • Harga bid Rp 1000 untuk setiap klik yang masuk ke dalam website Anda. Diasumsikan setiap 10 orang masuk ke dalam website Anda, akan ada 1 orang yang membeli. Jadi, biaya yang dibutuhkan untuk mengakuisisi 1 penjualan adalah = Rp 1000 x 10 = Rp 10,000.
  • Keuntungan kotor setiap 1 buah penjualan adalah Rp 50,000. Jadi berdasarkan asumsi no.1, maka keuntungan bersih Anda adalah Rp 50,000 – Rp 10,000 = Rp 40,000
  • Anda menginkan penjualan sebanyak 100 pcs per hari, maka ditetapkanlah biaya iklan Anda sebesar Rp 1,000 (harga 1 klik) x 10 (jumlah klik untuk 1 penjualan) x 100 (target penjualan) = Rp 1,000,000 (1 Juta Rupiah)

Pahami dulu sampai disini, baru boleh baca paragaraf berikutnya.

Informasi ini dibaca oleh Facebook. Oh, Anda ingin beriklan di tempat kami, dengan spesifikasi sebagai berikut :

  • Budget Rp 1 Juta per hari
  • Anda hanya ingin transaksi dihitung ketika user menge-klik iklan, dengan budget maksimal Rp 1000 per 1 klik

Sampai disini Facebook paham, dan dijalankanlah iklan Anda.

Saat iklan Anda dikompetisikan dengan advertiser lain, ternyata terdapat banyak sekali orang yang beriklan dengan creative yang sama bagusnya, tetapi memiliki bid jauh lebih tinggi dari Anda. Misal Rp 20.000 per 1 klik.

Apa akibatnya?

Iklan Anda tidak akan ditayangkan oleh Facebook, karena Anda kalah nilai bid. Ingat, creative yang unggul saja tidak cukup. Pengiklan di Facebook semakin banyak dari hari ke hari, maka Facebook akan mempertimbangkan mana orang yang memiliki bid lebih menguntungkan untuk Facebook.

Dari sini Anda bisa mengukur, oh, ternyata tidak menguntungkan jika menjual tempe di Facebook dengan harga bid Rp 1000, karena jauh lebih banyak orang berani membayar lebih mahal dari saya untuk ditayangkan iklannya kepada audience yang saya maksudkan.

Bagaimana cara memenangkannya? Sederhananya : naikkan harga bidnya, atau targetkan kepada orang-orang yang tepat

Inilah yang disebut dengan Manual Bidding.

Oke, bagaimana jika kita serahkan saja kepada Facebook?

Berapapun harga klik yang pantas untuk iklan saya, silakan tayangkan. Strategi ini dikenal dengan nama Automatic Bidding.

Dengan menggunakan strategi ini, kita seolah-olah diskusi dengan Facebook :

Facebook: Ingat, iklanmu harus bagus ya

Saya: Oke siap. Ini creative saya, ini post-nya. Silakan di cek. Harga bid, silakan tentukan yang pantas

Facebook: Oke terima kasih.

— 3 jam kemudian —

Facebook: Hm..Setelah kami tayangkan, ini iklanmu kurang bagus. Kurang relevan terhadap audience-nya. Lagipula, banyak yang iklannya lebih relevan dari kamu dan lebih bagus. Mau tetap kami tayangkan? Kalau kamu mau tetap tayang, berarti harga bid-nya mahal lho.

Saya: Lho kenapa kok mahal?

Facebook: Karena kamu harus tetap memiliki skor yang lebih tinggi dari adertiser lain untuk tetap tayang. Masalahnya tidak banyak orang yang tersedia yang mau melihat iklanmu, sedangkan budget harus tetap kami habiskan.

Saya: Ok, habiskan saja budget saya, nggak masalah.

Facebook: Oke siap.

Kira-kira, inilah skenario kalau iklan Anda automatic bidding dan rugi. Facebook akan tetap tayangkan hingga budget Anda habis. Sampai disini paham? Coba pahami pelan-pelan dialog diatas. Kalau Anda paham, artikel ini sebenarnya sudah sangat cukup untuk mengembangkan strategi-strategi lain secara kreatif dan menghasilkan campaign yang berhasil.

Selamat ngiklan!